PSE untuk apa?

PSE untuk apa?

Sebuah  refleksi  modul 2.2

Oleh : Sugeng Samsudin


           Saya  berpikir bahwa pembelajaran sosial emosional  hanya pembelajaran yang sifatnya  tersirat  sehingga menurut   saya tidak  penting  dimasukkan dalam  pembelajaran dikelas,  namun ternyata pembelajaran sosial emosional sangat penting bagi murid agar mereka memahami dan melatih jiwa sosial dan emosional agar menjadi manusia yang selamat dan merdeka seperti yang dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara dan bisa diterapkan secara eksplisit dalam pembelajaran kita.

          Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), tiga  hal mendasar dan penting yang saya lakukan  adalah :

  1. Interaksi yang baik antara guru dan murid (Kualitas relasi guru dan murid)

Interaksi yang baik antara guru dan murid diwujudkan dengan timbulnya rasa saling percaya yang akan berdampak pada ketertarikan dan keterlibatan murid dalam pembelajaran. Sikap saling percaya akan menumbuhkan perasaan aman dan nyaman bagi murid dalam mengekspresikan dirinya. Murid akan lebih berani bertanya, mencari tahu, berpendapat, mencoba, berkolaborasi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

  • Menciptakan budaya sekolah yang positif

Budaya sekolah positif dapat membuat lingkungan menjadi aman dan nyaman sehingga murid memiliki kebebasan dan kesempatan untuk berproses dan belajar. Budaya positif dapat diwujudkan dengan menerapkan kesepakatan/ keyakinan kelas/ sekolah serta sikap guru dan murid dalam menerima dan menjalankan konsekuensi dari sebuah “kelupaan” sehingga murid memiliki karakter baik yang lebih kuat.

  • Mengajar dengan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada murid

Pembelajaran yang berpusat pada murid dapat dilakukan dengan dimulai dari memetakan kebutuhan belajar murid yang bertujuan mengetahui kesiapan belajar, minat murid serta profil belajarnya. Dengan melakukan pembelajaran diferensiasi, yaitu diferensiasi konten, proses dan produk, murid dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuannya. Tidak ada lagi murid yang tidak pandai hanya murid tersebut membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari pada teman lainnya. Selain dengan pembelajaran diferensiasi, pembelajaran yang berpusat pada murid dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran sosial emosional yang diintegrasikan dalam semua kegiatan baik secara eksplisit, implisit serta didukung dengan penguatan sosial emosional guru dan tenaga kependidikan di sekolah.

        Perubahan yang akan dan sudah  saya terapkan di kelas dan sekolah :

  1. bagi murid-murid:

menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk murid dengan memulai dari mata pelajaran yang saya ajarkan di kelas yaitu dengan menerapkan keyakinan kelas, mengubah peraturan menjadi harapan-harapan yang mungkin dicapai. Selain itu, menerapkan pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melakukan pembelajaran diferensiasi dan penerapan pembelajaran sosial emosional baik secara eksplisit atau implisit.

  •  
  • bagi rekan sejawat:

memulai dari diri sendiri untuk selalu berusaha menjadi teladan atau menjadi penengah dan peredam dalam hubungan sesama rekan dan tenaga kependidikan untuk selalu meningkatkan kompetensi sosial dan emosional yang berlandaskan pada lima kompetensi sosial emosional yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berrelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

      Dari uraian diatas dapat disederhanakan menjadi tiga poko pemikiran sebagai berikut :

  1. Pembelajaran Sosial Emosional sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran di kelas karena menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejah teraan psikologis (well-being) secara optimal.
  2. Pengembangan sosial emosional meliputi lima kompetensi yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berrelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab yang dikuatkan melalui teori kesadaran penuh (mindfullness).
  3. Pembelajaran sosial emosional dapat diterapkan dalam empat cara yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, serta penguatan sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah.

MY PROFILE

DATA PRIBADI

Nama                                 : SUGENG SAMSUDIN

Tempat, Tanggal Lahir  : Demak, 23 Pebruari 1978

Jenis Kelamin                 : Laki-Laki

Umur                                 : 39 Tahun

Agama                               : Islam

Alamat                               : Desa Batu RT 01/02 Kec. Kr. Tengah Kab. Demak 59561

Telepon                             : (0291) 681779

HP                                     : 081371782917

Email                                 : sugengsamsudin230278@gmail.com

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

TahunPendidikanKeterangan
2012-2015S2 UNIVERSITAS UDINUS SEMARANG Jurusan       : Teknik Informatika Konsentrasi :  Teknik Intelijen Tesis            : BIOMETRIKA JAMBU CITRA DAN JAMBU DELIMA BERBASIS PENGOLAHAN CITRA DAUN DENGAN NEURAL NETWORK.  BEASISWA UNGGULAN DIKTI TAHUN 2012-2015
2007-2008AKTA  MENGAJAR (AKTA IV) UNIVERSITAS UNISULLA SEMARANG Jurusan       : PAI Konsentrasi :  Tarbiyah     
2000-2004S1 UNIVERSITAS UNAKI SEMARANG Jurusan       : Teknik Informatika Konsentrasi :  Teknik Informatika Skripsi          : SIMULASI GERAKAN ROBOT LENGAN DENGAN VISUAL BASIC 6.0 BERBASIS PPI 8255.BEASISWA SUPERSEMAR TAHUN 2001-2004
1994-1998STM  NEGERI PEMBANGUNAN SEMARANG (SMK 7) Jurusan         : Listrik TenagaBEASISWA SUPERSEMAR TAHUN 1995-1998
1992-1994SMP N 1 KARANGTENGAH DEMAK  BEASISWA SUPERSEMAR TAHUN 1993-1994
1987-1992SD N 1 BATU   

PENGALAMAN ORGANISASI

TahunOrganisasi
2016-2018Pokja Akreditasi Ban PNF Kab. Demak
2016Panitia Penyelenggara kegiatan internal audit ISO 90001:2015
2014-2018Ketua Himpunan Penyelenggara Pelatihan dan Kursus Kab. Demak (DPC HIPKI).
2011-2015Sekjen Himpunan  Seluruh Pendidik dan penguji Indonesia Kab. Demak (DPC HISPPI).
2010-2014Sie. Pendidikan  Himpunan Penyelenggara Pelatihan dan Kursus Kab. Demak (DPC HIPKI).
2013-2017Sekjen Panitia Pembangunan  Masjid Jami Attaqwa Desa Batu Kr. Tengah Demak.
2013-2017Sekjen RT 01/02 Desa Batu RT 01/02 Kr, Tengah Demak


SETIFIKAT PELATIHAN

NONAMA DIKLATTEMPATPENYELENGGARAMULAISELESAI
1Bimtek Metodologi PelatihanDinakertranduk Jawa TengahDinakertranduk Jawa Tengah22-04-200924-04-2009
2Orientasi teknis Pengembangan SDM Kursus/ Life SkillP2PNFI Regional II SemarangP2PNFI Regional II Semarang23-08-201027-08-2010
3Pendidikan dan Pelatihan Uji Kompetensi InstrukturHISPPI PNF Jawa TengahHISPPI PNF Jawa Tengah26-12-201230-12-2012
4Pelatihan Manajemen Kursus dan PelatihanPP PAUDNI Regional II SemarangPP PAUDNI Regional II Semarang21-04-201524-04-2015
5Pelatihan Kewirausahaan Berbasis ICTTelkom IndonesiaTelkom Indonesia22-02-201422-02-2014
6Manajemen Keuangan dan BeayaTelkom IndonesiaTelkom Indonesia18-09-201419-09-2014
7Strategi Pengelolaan LKPHIPKI DemakHIPKI Demak6/4/20106/4/2010
8Workshop Pengelola KursusDinas Pendidikan Jawa TengahDinas Pendidikan Jawa Tengah16-04-201018-04-2010
9Workshop Persiapan Akreditasi Lembaga PNFPP PAUDNI Regional II SemarangPP PAUDNI Regional II Semarang22-03-201124-03-2011
10Fasilitasi pengembangan KTSP Paket CDinas Pendidikan Jawa TengahDinas Pendidikan Jawa Tengah9/2/201212/2/2012
11Program Peningkatan Kapasitas Pembelajaran Lembaga Kursus dan PelatihanLPP Graha Wisata SemarangDinas Pendidikan Jawa Tengah12/12/201214-12-2012
12Intelligent system and Business IntelligenceUDINUS SemarangUDINUS Semarang8/9/20128/9/2012
13Seminar Nasional TIK TerapanUDINUS SemarangUDINUS Semarang16-10-201316-10-2013
14Seminar Peningkatan Kompetensi Pengelola Lembaga Kursus dan PelatihanPP PAUDNI Regional IPP PAUDNI Regional II Semarang17-04-201417-04-2014
15Character BuildingUDINUS SemarangBPKLN14-04-201515-04-2015
16Seminar Nasional Model-Model Pembelajaran Dengan Teknologi TerkiniPP PAUD & DIKMAS JawPP PAUD & DIKMAS Jawa Tengah7/12/20167/12/2016

KOMPETENSI TIK

NoJenis KompetensiKeterangan
1KOMPUTERMicrosoft Office (Word, Excel, Power point).Multimedia Software ( Corel, Photoshop, adobe premier, Flash, 3D smax).Basic Programming ( Pascal, Visual Basic)Mathlab Basic

KOMPETENSI BAHASA INGGRIS

NoJenis KompetensiLembaga PemberiKeterangan
1TOEICETS335
2TOEFL LIKE TESTKURNIA EXCELLENTCOURSE430
3IT-Based English for TeachersUDINUS 

PENGALAMAN KERJA

TahunPengalaman KerjaPekerjaan
2009-SAAT INISMK N 1 DEMAKPENGAJAR PERAKITAN KOMPUTER, SISTEM KOMPUTER, OPERATING SISTEM
2008-SAAT INILKP SUGENG ELEKTRONIKPEMBINA, PENGURUS, PENGAJAR
2010-SAAT INIPKBM SURYA ALAMPEMBINA, PENGURUS, PENGAJAR
2016-SAAT INITUK SUGENG ELEKTRONIKMANAJER

PRESTASI

NONAMA PENGHARGAANNOMOR SKTANGGALTAHUNASAL
1YURI ORSENI421.9/1271/20125/4/20122012DINDIKPORA KABUPATEN DEMA
2JUARA I LOMBA LKN PENGELOLA KURSUS DAN PELATIHAN421.9/1271/20125/4/20122012DINDIKPORA KABUPATEN DEMA
3JUARA I LOMBA LKN PENGELOLA PKBM421.9/940/201429/04/20142014DINDIKPORA KABUPATEN DEMA
      
4PENGUJI  UJI  KOMPETENSI ELEKTRONIKA DASAR026/P-ELK/2016/LSK-E11/10/20162016DITBINSUSLAT & LSK ELEKTRONIKA

Pembelajaranku Sudah Berdiferensiasi?

Pembelajaranku Sudah Berdiferensiasi?

Sebuah Aksi Nyata   modul 2.1

Oleh : Sugeng Samsudin

Praktik pembelajaran berdiferensiasi  tidak berarti melakukan semua hal bagi semua siswa di setiap saat. Diferensiasi merupakan sebuah kerangka berpikir pendidik  tentang belajar-mengajar bukan sekedar alat yang dipakai ataupun yang ditinggalkan untuk situasi yang berbeda.

Pembelajaran berdiferensiasi yaitu usaha penyesuaian pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar masing-masing siswa sesuai dengan kesiapan belajar, minat dan profil siswa seperti dengan memodifikasi proses, modifikasi produk, mendesain berbagai aktivitas untuk membantu siswa memahami materi, memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan hasil belajarnya melalui berbagai bentuk. Jadi peran pendidik, bukan hanya menghabiskan materi, tetapi mengoptimalkan proses belajar setiap siswa, diferensiasi menjadi prasyarat proses belajarnya, bukan hanya elemen tambahan.

Pembelajaran berdiferensiasi yang diimplementasikan dengan baik justru meringankan bagi guru karena menumbuhkan siswa mandiri yang terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam proses belajarnya. Siswa ini pada akhirnya mendorong dirinya sendiri untuk mencapai potensi optimal dan tercapainya tujuan belajar. Praktik diferensiasi dapat tumbuh bila didukung oleh ekosistem dan guru yang percaya bahwa (1) siswa perlu dihormati sebagai subjek belajar dan diberikan tugas yang menantang; (2) siswa tidak harus selalu bergerak maju, sebagian anak juga perlu bergerak mundur dulu jika belum siap mencapai tujuan yang lebih tinggi; (3) siswa juga harus mengetahui dengan jelas mengapa materi penting dipelajari, kaitan suatu tujuan pembelajaran satu dengan yang lain, lintas jenjang ataupun lintas disiplin ilmu; (4) Asesmen otentik yang berkelanjutan bukan sekedar pemberian nilai, bukan sekedar untuk menjustifikasi rapor, tidak digunakan untuk mengelompokkan siswa yang menang atau kalah berdasarkan nilai, tidak digunakan untuk mengancam/memberikan penghargaan melalui nilai, namun dengan pemberian umpan balik dan refleksi untuk mendorong guru dan siswa untuk terus meningkatkan proses belajar-mengajar; (5) lingkungan yang aman dan nyaman dari segala bentuk kekerasan, seperti penumbuhan disiplin positif. Guru dapat berempati dan membangun hubungan hangat dengan siswa sehingga siswa berani salah dan berani mencoba (resiko yang penting dalam belajar).

Pembelajaran berdiferensiasiku tertuang dalam RPP berikut ini :

https://drive.google.com/file/d/1pLJVCW6Asqt6jXeQsCLQJlzSIKAdHgQL/view?usp=share_link

Hasil produk peserta didik tertuang dalam link berikut Ini :

https://drive.google.com/drive/folders/1fjy_uwJnEYGdWullnMhQg9X034ECi_nn?usp=share_link

Apa yang kita lakukan sebagai pendidik tentunya berpihak pada murid dalam rangka menuntun dan mebuat  garis-garis mereka lebih terang. Dengan kebijaksanaan yang kita miliki insyaallah apa yang kita cita-citakan akan terkabul.

RANCANGAN TINDAKAN UNTUK AKSI NYATA

BERBAGI PRAKTIK BAIK : RESTITUSI 2 KASUS NYATA KELASKU

Judul Modul                      :  Budaya Positif

Nama Peserta                   :  Sugeng Samsudin

Latar Belakang                  :

  1. Penegakan displin melalui hukuman dan penghargaan memberikan efek samping yang kurang baik untuk jangka panjang.
  2. Murid merasa tertekan, takut, ketergantungan akan figur atau  guru tertentu  untuk bertindak disiplin.
  3. Keyakinan kelas hanya retorika.

Tujuan                                  :

  1. Penegakan disiplin melalui restitusi
  2. Menumbuh kembangkan motivasi intrinsik pada murid dalam penegakan displin.
  3. Meyakinkan murid dan warga belajar akan keyakinan kelas.

Tolok Ukur                          :

  1. Pembiasaan penegakan displin positip melalui restitusi semakin masiv.
  2. Murid  menegakkan displin atas dorongan intrinsik.
  3. Keyakinan kelas dijunjung tinggi.

Linimasa                              :

NoWaktuKegiatan
1Minggu 1 Januari 2023Identifikasi masalah
2Minggu 2 Januari 2023Pemilihan masalah
3Minggu 3 Januari 2023Skenario penyelesaian
4Minggu 3 Januari 2023eksekusi
5Minggu 4 Januari 2023evaluasi
6Minggu 4 Januari 2023Sosialisasi/ refleksi

Dukungan yang dibutuhkan        :

  1. Perangkat pembelajaran
  2. Minimal 2 jenis masalah / kasus nyata murid
  3. Ruang kelas dan atau lab
  4. Komunitas minimal beranggota 10 orang
  5. Projector

Paradigma Segitiga Restitusi

Koneksi antar materi modul 1.4

Oleh : Sugeng Samsudin

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang pendidikan sungguh sangat luar biasa. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada ank-anak, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara mengibaratkan guru adalah petani dan murid adalah benih-benih tanaman yang perluh dirawat sesuai dengan proses perkembangannya sehingga menghasilkan buah yang baik. Beliau juga menegaskan bahwa dalam pendidikan hendaknya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki anak, maksudnya pendidikan tidak bersikap statis namun dinamis sesuai dengan tantangan zaman.

Dari peryantaan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan inilah sebagai guru perlu memiliki nilai dan peran agar mampu menjadi teladan, memberi motivasi dan mendorong peserta didik untuk mencapai kebahagiaan seluas-luasnya dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang diberikan. Nilai dan peran yang perlu dimiliki guru adalah nilai Mandiri, nilai Reflektif, Nilai Inovatif, Nilai Kolaborasi dan Nilai Berpihak pada Murid, sedangkan peran guru adalah Peran menjadi coach bagi guru lain, Peran memimpin pembelajaran, peran berkolaborasi dengan guru lain, peran menciptakan komunitas belajar dan peran mewujudkan kepemimpinan pada peserta didik. Nilai dan peran merupakan langkah awal menuju sebuah perubahan baru dalam dunia pendidikan.

Demi mewujudkan sebuah perubahan maka perlu adanya sebuah visi. Visi seorang guru merupakan acuan untuk mencapai perubahan pendidikan yang lebih baik dari saat ini. Visi membantu  guru untuk melihat kondisi saat ini sebagai garis “start” dan membayangkan garis “finish” seperti apa yang ingin dicapai. Kebiasaan-kebiasaan setiap warga sekolah yang baik perlu dikuatkan agar terciptalah budaya positif disekolah. Mewujudkan visi sekolah dan melakukan perubahan memanglah tidak mudah perlu  kerjasama dari semua warga sekolah dan dimulai dari diri sendiri, sehingga perlu dilakukan pendekatan atau paradigma yang disebut dengan pendekatan Apresiasi Inkuiri yang memiliki tujuan untuk memetakan kekuatan-kekuatan yang dimiliki warga sekolah melalui tahapan BAGJA.

Dari tahapan BAGJA ini maka  terciptalah kebiasaan-kebiasaan baik yang bisa dijadikan sebagai  budaya positif sekolah yang mana anak merasakan sekolah sebagai rumah keduanya. Lingkungan yang positif, rasa aman dan nyaman membuat peserta didik mampu berpikir, bertindak dan mencipta dengan merdeka, mandiri dan bertanggung jawab.

Strategi-strategi yang diperlukan sekolah dalam mewujudkan Budaya Positif sekolah yaitu:

  1. Disiplin Positif, yang dimaksud dengan disiplin positif disini berkaitan dengan kontrol guru dalam menghadapi murid, seperti Ilusi Guru mengontrol murid (memaksa peserta didik melakukan sesuatu yang diinginkan  guru sekalipun itu merupakan hal baik), ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat, maksudnya memberikan kalimat-kalimat pujian pada anak agar anak mau melakukan apa yang dinginkan guru, namun hal ini hanya bersifat sementara, Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter (Guru menyampaikan kalimat-kalimat negatif dengan suara halus untuk membuat murid merasa bersalah dengan perbuatannya). Disiplin menurut Ki Hadjar Dewantara adalah Disiplin Diri, yang memiliki motivasi internal dimana seseorang mampu menggali potensi yang ada dalam dirinya menuju pada sebuah tujuan sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata lain seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai pendidik tujuan kita adalah tujuan menciptakan peserta didik yang memiliki disiplin diri.
  2. Posisi Kontrol Guru, merupakan bagian dari disiplin yang berpihak pada murid. Posisi kontrol yang sering dilakukan guru adalah Penghukum, Pembuat orang merasa bersalah, teman, Monitor (pemantau) dan Manager. Posisi kontrol Guru sebagai Penghukum bisa menggunakan hukuman fisik dn verbal dan selalu menggunakan sistem untuk menekan peserta didik.  Posisi Kontrol Guru sebagai Pembuat Orang Merasa Bersalah, posisi ini biasanya guru akan bersuara lembut dan akan membuat peserta didik merasa buruk tentang diri mereka, tidak berharga dan telah mengecewakan orang-orang yang disayanginya. Posisi Kontrol Guru Sebagai Teman, pada posisi ini guru tidak anak menyakiti murid, namun tetap berupaya tetap mengontrol peserta didik melalui persuasi. Posisi Kontrol Guru sebagai Monitor (Pemantau), maksudnya guru mengawasi dan bertanggung jawab atas perilaku peserta didik yang diawasi. . Posisi Kontrol sebagai Manajer, Guru berbuat sesuatu bersama dengan murid dan mempersilahkan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi  atas permasalahannya sendiri. Tujuan Akhir dari 5 posisi kontrol guru adalah Posisi Manajer, dimana posisi inilah peserta didik dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat menciptakan lingkungan positif, aman dan nyaman.
  3. Kebutuhan Dasar Manusia terbagi atas 5 yaitu; Kebutuhan bertahan hidup (Survival), Cinta dan kasih sayang (Love and belonging), Kebebasan (freedom), kesenangan (fun) dan kekuasaan (power). 
  4. Keyakinan Kelas merupakan nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama. keyakinan dapat memotivasi peserta didik karena merupakan kesepakatn yang telah dibuat dan disepakati bersama-sama.
  5. Restitusi merupakan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. Melalui restitusi ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang akan memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa  dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapat kembali harga dirinya.
  6. Segitiga Restitusi merupakan tahapan untuk melakukan restitusi yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan.

Dengan adanya Budaya positif  sekolah yang aman, nyaman dan bermakna membantu peserta didik untuk mewujudkan merdeka belajar sesuai dengan filosfi pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang dimulai dari menghargai diri sendiri dan kemudian orang lain dengan melihat nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang telah dibuat atau disepakati bersama. selain itu Pendidik bisa menempatkan posisi kontrol sebagai manajer untuk memberi kesempatan kepada murid mepertanggung jawabkan perilakunya dan mendukung murid dalam menemukan soulusi atas permasalahannya melalui nilai dan peran guru.

Berpihak Pada Murid Cerminan Kodrat Alam dan Zaman

Oleh : Sugeng Samsudin

Bapak Ibu yang hebat. Setelah mempelajari modul 1.1 tentang  filosofi KHD dan modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Kita mendapatkan pengalaman belajar yang luar biasa sehingga bisa mengkoneksilkan bahwa nilai-nilai dan peran guru penggerak  tidak lain dan tidak bukan hanya untuk berpihak pada murid dengan bahasa KHD adalah untuk menghamba pada murid.

Seorang guru penggerak seyogyanya memiliki 5 nilai yang harus dipatuhi yaitu : berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif. Dengan nilai-nilai tersebut diproyeksikan seorang guru penggerak menjadi pemimpin pembelajaran, coaching bagi teman sejawat, mendorong kolaboratif, mewujudkan kepemimpinan murid dan bisa menggerakkan komunitas praktisi.

Betapa susahnya mengumpulkan portofolio projek murid tepat waktu dan sesuai harapan  pada pelajaran produktif DKV yang saya ampu. Namun suatu keajaiban terjadi ketika suatu saat saya sungguh-sungguh menggali dan menganalisis kendala yang dihadapi murid. Rata-rata murid mengeluh demonstrasi yang saya sampaikan secara real time di lab relatif cepat dan membuat mereka tidak bisa mengulangi secara mandiri.

Saya merasa sudah memberikan yang terbaik untuk murid-murid   namun mengapa mereka ketinggalan dalam menyelesaikan projek-projek yang kita sepakati. Sungguh merupakan tantangan yang luar biasa agar murid segera move on.

Refleksi dan introsepkesi  saya lakukan dengan cara menganalisis metode demonstrative terbimbing yang sudah saya lakukan selama ini. Selama ini saya secara   realtime mempraktikkan contoh projek yang akan di buat siswa di laboratorium komputer  secara langsung dan murid  mengikuti mempraktikkan. Ternyata murid ketinggalan  beberapa step dan tidak bisa mengulangi lagi karena keterbatasan untuk mengingat disamping itu bekerja didepan komputer lebih dari 2 jam akan berpengaruh secara biologis dalam tubuh kita yang akibatnya menimbulkan kelelahan.

Sebagai guru yang memiliki nilai berpihak pada murid dan memiliki peran untuk mewujudkan kepemimpinan murid serta mampu menyesuaikan kodrat alam dan zaman murid maka  saya berupaya  agar murid bisa belajar dengan metode demonstrative mandiri artinya  murid bisa mengulang secara mandiri contoh projek yang saya berikan. Dengan kata lain  saya menggunakan blended learning. Tatap muka di ruang praktik tetap saya lakukan namun saya juga memberikan tutorial yang saya buat sendiri agar murid bisa mengulang-ulang materi secara mandiri. Dengan cara ini secara bertahap  target portofolio projek murid  sesuai timeline.

Untuk mendukung  demonstrative mandiri tersebut tentunya saya harus selalu mandiri belajar meningkatkan kompetensi teknis melalui kursus-kursus, kolaboratif dengan teman sejawat dan komunitas praktisi dan selalu terbuka menerima kritik dan saran. Lebih produktif membuat karya-karya tutorial untuk murid.

Demikian korelasi antar materi modul 1.1 dan 1.2 yang saya alami dan lakukan. Terimakasih.

REFLEKSI PEMIKIRAN KHD

Oleh : Sugeng samsudin

Pemikiran KHD mengenai pendidikan dan pengajaran  adalah  sesuatu yang saling terkait atau tidak dapat dipisahkan. Pengajaran merupakan bagian dari pendidikan dalam suatu proses transfer ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan pendidikan memberi tuntunan  terhadap segala kekuatan  kodrat yang dimiliki anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan  yang setinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.  Dalam proses ‘menuntun’ anak dalam pengajaran diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Dengan tetap mengedepankan sikap, perilaku dan karakter yang mencerminkan sebagai seorang peserta didik dengan nilai-nilai dan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya.

     Relevansi pemikiran KHD  dengan konteks pendidikan Indonesia  saat ini  tentunya sangat relevan diantaranya salah satu filosofinya bahwa pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman. Kodrat alam terkait dengan lingkungan yang menempa anak didik  sedangakan kodrat jaman terkait dengan perkembangan peradaban global. Bagaimana menempa anak didik sesuai dengan karakteristiknya masing-masing  dalam nuansa peradaban yang terus maju dan berkembang. Dalam kurikulum merdeka filosofi KHD bahwa pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman nampak akan terwujud.

     Konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara sangat menginspirasi dan menambah wawasan pengetahuan dan semangat saya untuk segera melakukan perubahan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari khusunya di lingkungan sekolah. Kegiatan yang akan dilakukan agar proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat terwujud dengan menerapkan merdeka belajar, kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan. Merdeka belajar yang berorientasi dan berpusat kepada peserta didik dengan pendekatan pendidikan yang holistik. Pemikiran KHD seperti Ing Ngarso sung tulodho, Ing Madyo mangun karso, Tut wuri handayani  yang berarti didepan menjadi contoh, ditengah memberi semangat, dibelakang memberi dorongan  benar-benar sudah mendunia dalam dunia pendidikan. Bahkan pemikiran tersebut sudah menjadi jiwa dari tenaga pendidik pada khusunya dan manajemen global  pada umumnya. Namun kita akui bahwa kemerdekaan pendidikan di Indonesia masih perlu perjuangan dimana pendidik masih disibukkan dengan administrasi dan regulasi yang selalu berubah-ubah. Marilah kita tetap semangat  dengan kodrat alam yang kita miliki dan kodrat jaman yang terus bergerak maka tidak ada pilihan selain ikut bergerak. 

FILOSOFI KI HAJAR DEWANTARA

Oleh : Sugeng Samsudin

Berbicara tentang  filosofi Pendidikan menurut KHD sungguh teramat mengesankan dan luar biasa.

Pendiri perguruan taman siswa ini dalam hidupnya penuh perjuangan dan dedikasi dalam memperjuangakan penduduk pribumi kala itu agar mendapat hak Pendidikan yang masih berpusat pada para bangsawan.

Tanggal lahir beliau diperingati sebagai hari Pendidikan nasional Indonesia yaitu 2 mei .

Kita tidak asing dengan  kata-kata hebat ini :

Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani, itu adalah filsafah hebat yang sangat terkenal dari  KHD.

Ing ngarso sung tuloho mengandung arti bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa memberi contoh atau suri tauladan kepada anak didiknya, Ing madyo mangun karso  menuntut kita agar selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada anak didik kita untuk terus maju mendapatkan cita-citanya. Sedangagkan tut wuri handayani menuntun kita untuk selalu  mendampingi, mendorong anak didik untuk mewujudkan cita-citanya sesuai dengan bakat dan minatnya.

Selain ketiga kata hebat itu, KHD merumuskan bahwa tujuan Pendidikan adalah untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang steinggi-tingginya baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.

Dalam  menuntun laku dan dan pertumbuhan anak KHD  memberikan metafora kepada kita  ilmu seorang Petani, Seorang petani  dalam menanam padi dan jagung memberikan perlakuan yang tidak sama namun semua menghasilkan padi dan jagung yang bermutu. Meskipun suatu saat benih yang didapatkannya kurang baik, namun dengan perhatian, keseriusan, kerja keras akan didapatkan hasil padi dan jagung yang baik. Intinya adalah pendkidik harus mendidik anak sesuai dengan minat dan bakat sesuai kodrat alam dan zaman.

Dalam memaknai kodrat zaman kita sepakat bahwa  anak didik kita harus memiliki kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan di abad 21 ini baik berupa pengetahuan maupun keterampilan. Sedangkan kodrat alam mengandung pengertian bahwa kultur antara barat, timur maupun tengah tentunya berbeda sehingga dalam mendidik anak harus melakukan adaptasi.

Pada zamannya KHD sudah memiliki perspektif global dalam memandang Pendidikan, pengaruh dari luar disaring dan disesuaikan dengan social budaya dan kearifan lokal penduduk pribumi saat itu, pengaruh luar akan memberikan isi dan irama kearifan lokal yang ada .

Kekuatan social budaya yang beragam merupakan kekuatan kodrat zaman dan kodrat alam dalam mendidik,

Filsafat KHD yang tidak kalah terekenal yaitu azas trikon Pendidikan yaitu :

Kontinyu : artinya dalam menuntut ilmu kita harus berkelanjutan dan terus menerus, apa yang kita capai sekarang adalah perjuangan yang telah kita lakukan sebelumnya. Apa yang kita lakukan hari ini akan menuai di masa mendatang. Begitu seterusnya. Lakukan perubahan meskipun hanya sedikit.

Konvergen : Dalam menuntut ilmu kita harus belajar dari mananpun, siapapun bahkan sampai kenegara lain jangan menutup diri sehingga kita menjadi stagnan.

Konsentris : Namun jangan lupa jati diri, kearifan lokal budaya lokal harus tetap terjaga

MENGHADIRKAN KHD DI KELAS DAN DI SEKOLAH

Oleh : Sugeng Samsudin

Ass.wr.wb   Salam Bahagia untuk kita semua

Bapak ibu pendidik yang hebat, kita selama ini telah bergelut dengan murid sesuai dengan kodrat alam dan zamannya, suka duka pernah kita lalui dari masa ke masa, karakter dan sosok murid juga berganti setiap tahunnya. Ada yang  humanis ada yang reaktif ada juga yang diam seribu Bahasa. Ada yang biasa-biasa saja ada yang unjuk rasa ada juga yang frontal. Ada yang membuat kita mengelus dada ada yang membuat kita terpana dan ada juga yang  membuat kita “ jatuh cinta “.

Namun apakah kita menyerah  dan pasrah dengan keadaan ini. Apakah kita  mengakhiri profesi sebagai pendidik dan penuntun anak untuk mencapai tujuan hidupnya.

Saya yakin bapak ibu sekalian masih tetap tegar  dan bangga menjunjung tinggi profesi sebagai pendidik. Buktinya sampai hari ini kita masih bergelut dengan murid, masih tetap belajar demi murid, masih tetap mendoakan mereka, masih tetap menaruh harapan kesuksesan mereka.

Sungguh luar biasa yang bapak/ibu lakukan

Saya belajar banyak tentang filosofi KHD bagaimana memandang murid sebagai subyek bukan obyek Pendidikan.  Bagaimana memerdekakan mereka untuk mendapatkan dan mewujudkan cita-citanya sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Penyesuaian atau adjustment  cara mengajar segera saya lakukan  yaitu dengan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyelesaikan suatu projek dengan cara mereka sendiri tentunya dengan kaidah-kaidah pokok yang sebelumnya sudah saya berikan. Peserta didik diperkenankan  moving  tempat duduk, diperkenankan   kolaborasi dengan teman sejawat bahkan diperkenankan untuk menyelesaikan projek dengan aplikasi yang mereka suka. Pola pembelajaran kekinian blended learning juga saya terapkan .

Semangat sosia cultural  Pendidikan dikelas tetap dilanjutakan dan ditingkatkan intensitasnya , berdoa sebelum dan sesudah PBM, mengawali pembelajaran dengan membaca asmaul husna bersama-sama, memberikan motivasi dan semangat selalu dilakukan dan memberikan kesempatan sepenuhnya untuk sholat berjamaah Ketika duhur dan ashar.

Asas trikon Pendidikan KHD saya terapkan  diantaranya secara kontinyu melaksanakan tugas mulia sebagai pendidik dalam menuntuk peserta didik mencapai tujuan hidupnya. Karena pada hakikatnya apa yang terjadi sekarang adalah apa yang kita lakukan dimasa lalu. Dan apa yang kita lakukan sekarang akan kita tuai dimasa mendatang.

Untuk meningkatkan pelayanan kepada anak didik dalam rangka mewujudkan “ mengabdi kepada siswa” dan sesuai dengan azas konvergen, saya terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas baik secara  individu maupun  dengan teman sejawat melui belajar sepanjang hayat.

Secara individu dengan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan melalui kursus-kursus dan mempertajam literasi. Dengan teman sejawat  meningkatkan belajar bersama saling mengisi dan berbagi pengetahuan dan keterampilan melalui formal maupun nonformal.

Apa yang saya lakukan tentunya tetap berpegang teguh pada azas konsentris yaitu tetap  mengedepankan nilai nilai religius dan humanis masyarakat Demak dan sekitarnya, tidak melupakan sosio kultural masyarakat.

Sumbangsih kepada institusi terus kami tingkatkan,  pada hakikatnya Ketika kita menyadari bahwa institusi kita tempat bernaung dan mengembangkan diri  baik sekarang, nanti dan masa mendatang maka kita memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengembangkan institusi.

Bagaimana kita bisa mengembangkan individu dan kelompok kita namun kita melupakan institusi tempat bernaung kita.

Peningkatan peran aktif pada institusi  yang saya lakukan diantaranya menjadi leading sector peningkatan sarana prasarana disekolah, berperan aktif dalam perumusan Renstra sekolah dan Unit produksi/ TEFA/BLUD  dan leading sector penyusunan Rencana kegiatan dan Anggaran Sekolah.

Seiring waktu tentunya evaluasi, koreksi dan refleksi akan terus kami tingkatkan  dalam kerangka  pemikiran KHD.

Terimakasih salam hangat untuk kita semua , wassalu alaikum wr.wb.